BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati) yang terakumulasi disebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit)
atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau
jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan
untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian lain dari tubuh.
Organisme atau benda asing membunuh sel-sel lokal yang pada akhirnya menyebabkan pelepasan sitokin. Sitokin tersebut memicu sebuah respon inflamasi (peradangan), yang menarik kedatangan sejumlah besar sel-sel darah putih (leukosit) ke area tersebut dan meningkatkan aliran darah setempat.
Struktur akhir dari suatu abses adalah dibentuknya dinding abses, atau kapsul, oleh sel-sel sehat di sekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah nanah menginfeksi
struktur lain di sekitarnya. Meskipun demikian, seringkali proses
enkapsulasi tersebut justru cenderung menghalangi sel-sel imun untuk
menjangkau penyebab peradangan (agen infeksi atau benda asing) dan
melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam nanah.
Abses harus dibedakan dengan empyema. Empyema mengacu pada akumulasi nanah di dalam kavitas yang telah ada sebelumnya secara normal, sedangkan abses mengacu pada akumulasi nanah di dalam kavitas yang baru terbentuk melalui proses terjadinya abses tersebut.
Karena abses
merupakan salah satu manifestasi peradangan, maka manifestasi lain yang
mengikuti abses dapat merupakan tanda dan gejala dari proses inflamasi, yakni: kemerahan (rubor), panas (calor), pembengkakan (tumor), rasa nyeri (dolor), dan hilangnya fungsi. Abses dapat terjadi pada setiap jaringan solid, tetapi paling sering terjadi pada permukaan kulit, pada paru-paru, otak, gigi, ginjal, dan tonsil. Komplikasi mayor abses adalah penyebaran abses ke jaringan sekitar atau jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (gangren).
Pada sebagian besar bagian tubuh, abses
jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tindakan medis
secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya abses.
Suatu abses dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal (meskipun jarang)
apabila abses tersebut mendesak struktur yang vital, misalnya abses
leher dalam yang dapat menekan trakhea.
Abses
luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik.
Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi
bedah, debridemen, dan kuretase.
Suatu
abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,
utamanya apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing
tersebut harus diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing,
biasanya hanya perlu dipotong dan diambil absesnya, bersamaan dengan
pemberian obat analgesik dan mungkin juga antibiotik.
Drainase
abses dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap
nanah yang lebih lunak. Hal ini dinyatakan dalam sebuah aforisme Latin:
Ubi pus, ibi evacua.
Apabila
menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis,
tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan
terakhir yang perlu dilakukan. Drainase abses paru dapat dilakukan
dengan memposisikan penderita sedemikian hingga memungkinkan isi abses
keluar melalui saluran pernapasan. Memberikan kompres hangat dan
meninggikan posisi anggota gerak dapat dilakukan untuk membantu
penanganan abses kulit.
Karena
sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus,
antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin
sering digunakan. Dengan adanya kemunculan Staphylococcus aureus
resisten Methicillin (MRSA) yang didapat melalui komunitas, antibiotik
biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk menangani MRSA yang didapat
melalui komunitas, digunakan antibiotik lain: clindamycin,
trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.
Adalah
hal yang sangat penting untuk diperhatikan bahwa penanganan hanya
dengan menggunakan antibiotik tanpa drainase pembedahan jarang merupakan
tindakan yang efektif. Hal tersebut terjadi karena antibiotik sering
tidak mampu masuk ke dalam abses, selain bahwa antibiotik tersebut
seringkali tidak dapat bekerja dalam pH yang rendah.
Namun
demikian, walaupun sebagian besar buku ajar kedokteran menyarankan
untuk dilakukan insisi pembedahan, sebagian dokter hanya menangani abses
secara konservatif dengan menggunakan antibiotik.
Dari
data RSUD Dr R Soetrasno Rembang kususnya di ruang Melati jumlah pasien
abses mulai bulan januari sampai bulan july 2010 adalah 11 orang, oleh
dasar itulah penulis ingin membahas lebih jauh tentang penyakit abses.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum :
Dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn.T dengan Abses Femur Dextra di ruang melati RSUD Dr. R Soetrasno Rembang
2. Tujuan kusus :
a. Dapat melaksanakan pengkajian keperawatan pada pasien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
b. Dapat menganalisa dan merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
c. Dapat melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
d. Dapat melaksanakan implementasi pada pasien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
e. Dapat melakukan evaluasi pada klien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
f. Membahas kesenjangan yang ada dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
g. Dapat mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan kasus dengan Abses Femur Dextra dengan benar.
C. Sistematika penulisan
Untuk
mempermudah pemahaman karya tulis ini penulis membagi sistematika
penulisan dalam 5 BAB yaitu BAB 1 pendahuluan terdiri dari tentang latar
belakang, tujuan penulisan dan sistematikapenulisan. BAB II konsep
dasar teori meliputi pengertian, etiologi, pathofisiologi, manifestasi
klinis, pathway, focus pengkajin, diagnosa keperawatan, fokus
intervensi. BAB III resume keperawatan, merupakan uraian kasus pada Tn.T
dengan Abses Femur Dextra mulai dari pengkajian, analisa data,
intervensi, implementasi, catatan perkembangan, evaluasi. BAB IV
Pembahasan terdiri dari masalah kesenjangan antara teori dengan kasus
nyata dan pembenaran. BAB V Penutup yang berisi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
KONSEP DASAR
Dalam
bab ini penulis akan membahas tentang tinjauan pustaka dari asuhan
keperawatan pada Tn.T dengan abses femur dextra di ruang Melati RSUD Dr R
Soetrasno Rembang mulai dari pengertian ,etiologi, pathofisiologi,
manifestasi klinis, pathway, penatalaksanaan, pemeriksaan penunjang
sampai dengan proses keperawatan yang meliputi fokus pengkajian,analisa
data, diagnosa keperawatan yang diarahkan pada pathway serta fokus
intervensinya.
A. Pengertian
Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan pengumpulan pus (bakteri,jaringan nekrotik dan sel darah putih)
( Smelltzer at.al, 2001: 496)
Abses
adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati yang terakumulasi
disebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi). Proses ini
merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran/perluasan infeksi kebagian lain dari tubuh
(http://id.wikipedia.org/wiki/abses)
B. Etiologi
Menurut ahli penyakit infeksi penyebab abses antara lain :
1. Infeksi Mikrobial
Merupakan
penyebab paling sering terjadinya abses. Virus menyebabkan kematian sel
dengan cara multiplikasi. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik
yaitu suatu sintesis kimiawi yang merupakan awal radang atau melepaskan
endotoksin yang ada hubunganya dengan dinding sel
2. Reaksi hipersensitivitas.
Terjadi bila ada perubahan respon Imunologi yang menyebabkan jaringan rusak.
3. Agen Fisik
Melalui trauma fisik, ultra violet, atau radiasi, terbakar, atau dinding berlebih (frostbite).
4. Bahan kimia iritan dan korosif
Bahan
oksidan, asam, basa, akan merusak jaringan dengan cara memprovokasi
terjadinya proses radang, selain itu agen infeksi dapat melepaskan bahan
kimiawi spesifik yang mengiritasi dan langsung menyebabkan radang
5. Nekrosis jaringan
Aliran darah yang kurang akan menyebabkan hipoksia dan berkurangnya makanan pada dearah yang bersangkutan.
Menyebabkan
kematian jaringan yang merupakan stimulus kuat penyebab infeksi pada
daerah tepi infeksi sering memperlihatkan suatu respon radang akut.
(Underwood,lC.E. 1999: 232 )
C. Faktor Predisposisi.
Faktor predisposisi dari abses yaitu :
1. Penurunan daya tahan tubuh.
2. Kurang gizi.
3. Anemia.
4. Diabetes
5. Keganasan(kanker)
6. Penyakit lainya
7. Higienis jelek
8. Kegemukan
9. Gangguan kemotatik
10. Sindroma hiper IgE
11. Carier kronik Staphilococcus Aureus.
12. Sebagai komplikasi dari dermatitis atopi,. ekscoriasis, scabies, pedikulosis.
(http//Imadeharyoga.com)
D. Patofisiologi
Kuman
yang masuk kedalam tubuh akan menyebabkan kerusakanakan jaringan dengan
cara mengeluarkan toksin. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik
(sintesis), kimiawi yang secara spesifik mengawali proses peradangan
atau melepaskan endotoksin yang ada hubunganya dengan dinding sel.
Reaksi hipersensitivitas terjadi bila ada perubahan kondisi respon
imunologi mengakibatkan perubahan reaksi imun yang merusak jaringan.
Agent fisik dan bahan kimia oksidan dan korosif menyebabkan kerusakan
jaringan,kematian jaringan menstimulus untuk terjadi infeksi. Infeksi
merupakan salah penyebab dari peradangan, kemerahan merupakan tanda awal
yang terlihat akibat dilatasi arteriol akan meningkatkan aliran darah
ke mikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan bersifat
lokal. Peningkatan suhu dapat terjadi secara sistemik.
Akibat
endogen pirogen yang dihasilkan makrofaq mempengaruhi termoregulasi
pada suhu lebih tinggi sehingga produksi panas meningkat dan terjadi
hipertermi. Peradangan terjadi perubahan diameter pembuluh darah
mengalir keseluruh kapiler, kemudian aliran darah kembali pelan.
Sel-sel darah mendekati dinding pembuluh darah didaerah zona plasmatik.
Leukosit menempel pada epitel sehingga langkah awal terjadi emigrasi
kedalam ruang ekstravaskuler lambatnya aliran darah yang mengikuti Fase
hyperemia meningkatkan permiabilitas vaskuler mengakibatkan keluarya
plasma kedalam jaringan, sedang sel darah tertinggal dalam pembuluh
darah akibat tekanan hidrostatik meningkat dan tekanan osmotik menurun
sehingga terjadi akumulasi cairan didalam rongga ekstravaskuler yang
merupakan bagian dari cairan eksudat yaitu edema. Regangan dan distorsi
jaringan akibat edema dan tekanan pus dalam rongga abses menyebabkan
rasa nyeri. Mediator kimiawi, termasuk bradikinin, prostaglandin, dan
serotonin merusak ujung saraf sehingga menurunkan ambang stimulus
terhadap reseptor mekanosensitif dan termosensitif yang menimbulkan
nyeri. Adanya edema akan mengganggu gerak jaringan sehingga mengalami
penurunan fungsi tubuh yang menyebabkan terganggunya mobilitas litas.
Inflamasi
terus terjadi selama, masih ada pengrusakan jaringan bila penyabab
kerusakan bisa diatasi, maka debris akan difagosit dan dibuang oleh
tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Reaksi sel fagosit yang
berlebihan menyebabkan debris terkumpul dalam suatu rongga membentuk
abses di sel jaringan lain membentuk flegmon. Trauma yang hebat
menimbulkan reaksi tubuh yang berlebihan berupa fagositosis debris yang
diikuti dengan pembentukan jaringan granulasi vaskuler untuk mengganti
jaringan yang rusak (fase organisasi), bila fase destruksi jaringan
berhenti akan terjadi fase penyembuhan melalui jaringan granulasi
fibrosa. Tapi bila destruksi jaringan berlangsung terus akan terjadi
fase inflamasi kronik yang akan sembuh bila rangsang yang merusak
hilang.
Abses
yang tidak diobati akan pecah dan mengeluarkan pus kekuningan sehingga
terjadi kerusakan Integritas kulit. Sedangkan abses yang diinsisi dapat
mengakibatkan resiko penyebaran infeksi.
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari abses yaitu :
Manifstasi Klini
1. Karena
abses merupakan salah satu manifestasi peradangan, maka manifestasi
lain yang mengikuti abses dapat merupakan tanda dan gejala dari prose
inflamasi, yakni kemrahan (rubor), panas (color), pembengkakan (tumor),
rasa nyeri (dolor) dan hilangnya fungsi.
(http: //id.wikipedia.org/wiki/Abses)
2. Timbul
atau teraba benjolan pada tahap awal berupa benjolan kecil, pada
stadium lanjut benjolan bertambah besar, demam, benjolan meningkat,
malaise, nyeri, bengkak, berisi nanah (pus).
(http//www.surabayapost.co.id)
3. Gambaran Klinis
a. Nyeri tekan
b. Nyeri lokal
c. Bengkak
d. Kenaikan suhu
e. Leukositosis
(Modifikasi: Smeltzer at aI, 2001 : 496. Levis, S Met al,200 : 1187,589)
4. Tanda-tanda infeksi
a. Rubor ( kemerahan ).
b. Kolor (panas) menggigil atau demam ( lebih dari 37,7° C ).
c. Dolor ( nyeri ).
d. Tumor ( bengkak ) terdapat pus ( rabas ) bau membusuk.
e. Fungtio laesa.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dari abses antara lain:
1. Kultur ; Mengidentifikasi organisme penyebab abses sensitivitas menentukan obat yang paling efektif.
2. Sel
darah putih, Hematokrit mungkin meningkat, Leukopenia, Leukositosis
(15.000 - 30.000) mengindikasikan produksi sel darah putih tak matur
dalam jumlah besar.
3. Elektrolit
serum, berbagai ketidakseimbangan mungkin terjadi dan menyebabkan
acidosis, perpindahan cairan dan perubahan fungsi ginjal
4. Pemeriksaan
pembekuan : Trombositopenia dapat terjadi karena agregasi trombosit,
PT/PTT mungkin memanjang menunjukan koagulopati yang diasosiasikan
dengan iskemia hati/sirkulasi toksin/status syok.
5. Laktat serum : Meningkat dalam acidosis metabolic, disfungsi hati, syok.
6. Glukosa
serum, hiperglikemi menunjukkan glukogenesis dan glikogenesis di dalam
hati sebagai respon dari puasa/perubahan seluler dalam metabolism.
7. BUN/Kr : Peningkatan kadar diasosiasikan dengan dehidrasi,ketidakseimbangan/kegagalan ginjal dan disfungsi/kegagalan hati.
8. GDA
: Alkalosis respiratori hipoksemia,tahap lanjut hipoksemia asidosis
respiratorik dan metabolic terjadi karena kegagalan mekanisme
kompensasi.
9. Urinalisis : Adanya sel darah putih/bakteri penyebab infeksi sering muncul protein dan sel darah merah.
10. Sinar X : Film abdominal dan dada bagian bawah yang mengindikasikan udara bebas di dalam abdomen/organ pelvis.
11. EKG : Dapat menunjukan perubahan segmen ST dan gelombang T,dan disritmia yang menyerupai infak miokard.
(Doenges,2000:873)
G. Penatalaksanan
Abses
luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik.
Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi
bedah, debridemen atau kuretase. Suatu abses harus diamati dengan teliti
untuk mengidentifikasi penyebabnya, utamanya apabila disebabkan oleh
benda asing karena benda asing tersebut harus diambil. Apabila tidak
disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong dan diambil
absesnya, bersama dengan pemberian obat analgetik. Drainase, abses
dengan menggunakan pembedahan biasanya diindikasi apabila abses telah
berkembang dari peradangan serasa yang keras menjadi tahap nanah yang
lebih lunak.
Karena
sering kali abses disebabkan oleh bakteri staphylococcus aureus,
antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau didoxacillin
sering digunakan. Dengan adanya kemunculan stophylococcus aureus yang
dapat melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efekif.
Fokus Pengkajian
Data tergantung pada tipe,lokasi,durasi dari proses infektif dan organ-organ yang terkena
1. Aktifitas I istirahat
Gejala : Malaise
2. Sirkulasi
Tanda
: Tekanan darah normal/sedikit dibawah jangkauan normal (selama
curah jantung tetap meningkat). Denyut perifer kuat, cepat (perifer
hiperdinamik); lemah/lembut/mudah hilang, takikardi ekstrem (syok).
Suara jantung : disritmia dan perkembangan S3 dapat mengakibatkan
disfungsi miokard, efek dari asidosis/ketidakseimbangan elektrolit.
Kulit hangat, kering, bercahaya (vasodilatasi), pucat, lembab, burik
(vasokonstriksi).
- Eliminasi
Gejala : Diare
- Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah.
Tanda
: Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/masa otot
(malnutrisi). Penurunan haluaran, konsentrasi urine; perkembangan ke
arah oliguria, anuria.
- Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, pusing, pingsan.
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium/koma
- Nyeri I/kenyamanan
Gejala : Kejang abdominal, lokalisasi nyeri/ketidaknyamanan, urtikaria, pruritus umum.
- Pemafasan
Tanda : Takipnea dengan penurunan kedalaman pemafasan, penggunaan kortikosteroid, infeksi baru, penyakit viral.
Tanda
: Suhu umumnya meningkat (37,95°C atau lebih) tetapi mungkin normal
pada lansia mengganggu pasien, kadang sub normal (dibawah 36,5°C),
menggigil, luka yang sulit/lama sembuh, drainase purulen, lokalisasi
eritema, ruam eritema makuler.
- Sexualitas
Gejala : Perineal pruritus, baru saja menjalani kelahiran/aborsi
Tanda : Maserasi vulva, pengeringan vaginal purulen.
- Penyuluhan / pembelajaran
Gejala
: Masalah kesehatan kronis/melemahkan misal: DM, kanker, hati,
jantung, ginjal, kecanduan alkohol. Riwayat splenektomi. Baru saja
menjalani operasi prosedur invasive, luka traumatik.
- Pertimbangan : Menunjukan lama hari rawat 7,5 hari.
11. Rencana
pemulangan : Mungkin dibutuhkan bantuan dengan
perawatan/alat dan bahan untuk luka, perawatan, perawatan diri, dan
tugas-tugas rumah tangga
Prioritas Keperawatan
a. Menghilangkan infeksi.
b. Mendukung perfusi jaringan/volume sirkulasi.
c. Mencegah komplikasi.
d. Memberikan informasi mengenai proses penyakit, prognosa dan kebutuhan pengobatan.
(Doenges,2000:240)
H. Pathway
I. Diagnosa Keperawatan
Secara teori pada kasus abses dapat ditarik beberapa diagnose keperawatan antara lain :
1. Resiko tinggi berhubungan dengan prosedur invasif
2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan regulasi temperatur.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan reduksi aliran darah arteri dan vena.
4. Resiko
tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
permiabilitas / kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang
ketiga).
5. Resiko tinggi terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah.
6. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi.
7. Nyeri berhubungan dengan regangan dan distorsi abses (kerusakanjaringan).
8. Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh (gangguan neuromuskular).
9. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit.
( Doenges,2000:241 )
J. Fokus Intervensi
Ada beberapa fokus intervensi yang muncul adalah sebagai berikut :
1. Resiko tinggi infeksi terhadap perkembangan infeksi oportunistik berhubungan dengan prosedur invasif.
Tujuan : Menunjukan penyembuhan luka seiring perjalanan waktu.
Kriteria Hasil : Bebas dari sekresi purulen/drainase, atau eritema dan afebris.
Intervensi
a. Berikan isolasi / pantau pengunjung sesuai indikasi.
Rasional
: Isolasi luka / linen dan mencuci tangan adalah yang dibutuhkan
untuk mengalirkan luka, sementara isolasi / pembatasan pengunjung
dibutuhkan untuk melindungi pasien imunosupresi. Mengurangi resiko
kemungkinan infeksi.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktifitas walaupun menggunakan sarung tangan steril.
Rasional : Mengurangi kontaminasi silang.
c. Batasi penggunaan alat / prosedur invasif jika memungkinkan.
Rasional : Mengurangi jumlah lokasi yang dapat menjadi tempat masuk organisme.
d. Lakukan inspeksi terhadap luka / sisi alat invasif setiap hari, berikan perhatian utama terhadap jalur hiperalimentasi
Rasional : Memberikan gambaran untuk identifikasi awal dari infeksi sekunder.
e. Gunakan teknik steril pada waktu penggantian balutan
Rasional : Mencegah masuknya bakteri, mengurangi resiko infeksi nosokomial.
f. Gunakan
sarung tangan / pakaian pada waktu merawat luka yang terbuka/antisipasi
dari kontak langsung dengan sekresi ataupun ekskresi.
Rasional : Mencegah penyebaran infeksi / kontaminasi silang.
g. Buang balutan/bahan yang kotor dalam kantung ganda
Rasional : Mengurangi area kotor / membatasi penyebaran organisme melalui udara.
h. Pantau kecenderungan suhu.
Rasional
: Demam tinggi menunjukan efek endotoksin pada hipotalamus
dan endorphin yang melepaskan pirogen. Hipotermi adalah tanda-tanda
genting yang merefleksikan perkembangan status syok / penurunan perfusi
jaringan.
i. Amati adanya menggigil dan diaphoresis
Rasional : Menggigil seringkali mendahului memuncaknya suhu pada adanya infeksi umum.
j. Memantau tanda-tanda penyimpangan kondisi / kegagalan untuk membaik selama masa terapi.
Rasional : Dapat menunjukan ketidak tepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan berlebihan dari organisme resisten.
k. Inspeksi rongga mulut terhadap sariawan. Selidiki laporan rasa gatal / peradangan vaginal / perineal.
Rasional : Depresi sistem imun dan penggunaan antibiotik dapat meningkatkan resiko infeksi skunder; terutama ragi. .
l. Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk.
Rasional : Dapat membasmi / memberikan imunitas sementara untuk infeksi umum atau penyakit khusus.
m. Bantu / siapkan insisi dan drainase luka.
Rasional : Memberikan kemudahan untuk memindahkan material purulen / jaringan nekrotik dan meningkatkan penyembuhan.
( Doenges, 2000: 874)
2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan pada regulasi temperatur.
Tujuan : Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.
Kriteria Hasil : Tidak mengalami komplikasi berhubungan
Intervensi
a. Pantau suhu pasien (derajad dan pola); perhatikan menggigil / diaphoresis.
Rasional : Suhu 38,9°C menunjukan proses infeksius akut .Pola demam dapat membantu dalam diagnosis.
b. Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur, sesual indikasi.
Rasional : Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
c. Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alcohol.
Rasional : Dapat mengurangi demam, alkohol dapat mengeringkan kulit.
d. Berikan antipiretik.
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
e. Berikan selimut pendingin.
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam tinggi pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak.
(Doenges,2000 : 874 )
3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan reduksi aliran darah arteri dan vena.
Tujuan : Menunjukan perfusi jaringan adekuat
Kriteria
Hasil : Tanda-tanda vital stabil, nadi perifer jelas, kulit
hangat dan kering, tingkat kesadaran umum, haluaran urine individu yang
sesuai dan bising usus aktif
Intervensi
a. Pertahankan tirah baring; bantu dalam aktifitas dan perawatan.
Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi O2 memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan.
b. Pantau kecenderungan pada tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi, dan perubahan pada tekanan denyut.
Rasional : Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan mikroorganisme menyerang aliran darah.
c. Pantau frekuensi dan irama jantung. Perhatikan disritmia.
Rasional : Disritmia jantung dapat terjadi sebagai akibat dari hipoksia.
d. Perhatikan kualitas / kekuatan dari denyut perifer.
Rasional : Pada awal nadi cepat menunjukan peningkatan curah jantung, nadi lemah menunjukan penurunan curah jantung.
e. Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, dan kualitas. Perhatikan dispnea berat.
Rasional : Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek langsung dari endotoksin pada pusat pemafasan.
f. Selidiki perubahan pada sensorium.
Rasional : Perubahan menunjukan penyimpangan perfusi serebral, hipoksemia,dan atau asidosis.
g. Kaji kulit terhadap perubahan warna, suhu, kelembaban.
Rasional : Mekanisme kompensasi dari vasodilatasi.
h. Catat haluaran urine dan berat jenisnya.
Rasional : Penurunan haluaran urine dan peningkatan berat jenis akan mengindikasikan penurunan perfusi ginjal.
i. Auskultasi bising usus.
Rasional : Vasokonstrisi splaknik menurunkan peristaltik dan dapat menimbulkan ileus paralitik.
j. Pantau pH gaster sesuai petunjuk. Hematest sekresi gaster / feses darah samar.
Rasional : Stress dari penyakit dan penggunaan steroid meningkatkan resiko erosi / perdarahan mukosa gaster.
k. Evaluasi kaki dan tangan bagian bawah untuk pembengkaan jaringan lokal, eritema, tanda Homan positif
Rasional : Stasis vena dan proses infeksi dapat menyebabkan perkembangan thrombosis.
l. Pantau tanda-tanda perdarahan.
Rasional
: Akselerasi pembekuan pada mikrosirkulasi menciptakan situasi
perdarahan yang membahayakan jiwa / emboli multiple
m. Catat efek obat-obatan dan tanda-tanda keracunan.
Rasional : Dosis antibiotik massif sering memiliki efek toksik potensial bila perfusi hepar / ginjal terganggu.
n. Berikan cairan parenteral.
Rasional : Untuk mempertahankan perfusi jaringan.
o. Berikan obat-obatan steroid sesuai petunjuk.
Rasional : Untuk menurunkan permiabilitas kapiler
p. Pantau pemeriksaan laboratorium.
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan asidosis.
q. Berikan suplemen O2
Rasional : Peningkatan suhu meningkatkan metabolisme O2.
4. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan permiabilitas/kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial.
Tujuan : Mempertahankan volume sirkulasi adekuat
Kreteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal, nadi perifer teraba haluaran urine adekuat.
Intervensi
a. Catat
haluaran urine dan berat jenis. Catat keseimbangan masukan dan keluaran
komulatif. Dorong masukan cairan oral sesuai toleransi.
Rasional
: Keseimbangan cairan positif lanjut dengan disertai penambahan berat
badan dapat mengindikasikan edema ruang ketiga,dan edema jaringan,
menunjukan perlunya mengubah terapi/komponen pengganti.
b. Pantau tekanan darah dan denyut jantung, ukur CVP.
Rasional
: Mekanisme kompensasi awal dari takikardia untuk meningkatkan
curah jantung dan meningkatkan tekanan darah sistemik.
c. Palpasi denyut perifer.
Rasional : Denyut yang lemah, mudah hilang dapat menyebabkan hipovolemi.
d. Kaji membrane mukosa, turgor kulit dan rasa haus.
Rasional : Hipovolemi / cairan ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda hipovolemi.
e. Amati edema dependen / perifer pada saluran, skrotum, punggung kaki.
Rasional : Kehilangan cairan dari kompartemen vaskuler kedalam ruang interstisiil akan menyebabkan edema.
f. Berikan cairan IV, misal kristaloid (0,5%) sesuai indikasi.
Rasional
: Menggantikan kehilangan dengan maningkatkan permiabilitas kapiler
dan meningkatkan sumber-sumber tak kasat mata.
g. Pantau nilai laboratorium.
Rasional : Mengevaluasi perubahan didalam hidrasi/viskositas darah.
(Doenges, 2000 ; 878 - 879)
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan :
a. Perubahan pada suplai O2, efek endotoksin pada pusat pemafasan
b. Perubahan aliran darah
Tujuan : Pasien menunjukan GDA dan frekuensi pemafasan dalam batas normal
Kriteria Hasil : Bunyi nafas bersih dan sinar x dada jelas / membaik tidak mengalami dispnea / sianosis
Intervensi :
1) Pertahankanjalan nafas paten (Kepala lebih tinggi).
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru, upaya pemafasan.
2) Pantau frekuensi dan kedalaman pemafasan, catat penggunaan otot bernafas.
Rasional
: Hipoventilasi dan dipsnea merefleksikan mekanisme kompensasi yang
tidak efektif dan merupakan indikasi bahwa diperlukan ventilator.
3) Auskultasi bunyi nafas.
Rasional : Kesulitan pernafasan dan munculnya bunyi adventisius merupakan indikator.
4) Catat munculnya sianosis sirkumoral
Rasional : Menunjukan oksigen sistemik tidak adekuat/hipoksemia.
5) Selidiki perubahan pada sensori.
Rasional : Fungsi serebral sangat sensitif terhadap penurunan oksigenasi.
6) Sering ubah posisi. Dorong untuk batuk dan latihan napas dalam.
Rasional : Untuk memaksimalkan pertukaran gas.
7) Patau GDA / nadi oksimetri.
Rasional
: Pada waktu kondisi septic memburuk, asidosis metabolik yang
meningkat untuk membangun asam laktat dan metabolisme anaerob.
8) Berikan O2 tambahan melalui jalur yang sesuai.
Rasional : Untuk mengoreksi hipoksemia dengan menggagalkan asidosis respiratorik.
9) Tinjau sinar X dada.
Rasional : Perubahan menunjukan perkembangan dan komplikasi pulmonal.
(Doenges, 2000: 879 - 880)
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan bergubungan dengan :
a. Kurangnya pemajanan / mengingat, kesalahan Interpretasi informasi
b. Keterbatasan Kognitif
Ditandai
1) Pertanyaan permintaan informasi,pernyataan salah konsepsi
2) Ketidak akuratan mengikuti instruksi / perkembangan komplikasi yang dapat dicegah
Tujuan : Menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis
Kreteria
Hasil : Ikut serta dalam program pengobatan, memulai perubahan
gaya hidup yang diperlukan dengan dapat penunjukkan prosedur yang
diperlukan dan menjelaskan rasional dan tindakan.
(Doenges, 2000 : 880 - 881)
Intervensi :
a. Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan.
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
b. Tinjau faktor resiko individual dan bentuk penularan tempat masuk infeksi.
Rasional
: Menyadari terhadap bagaimana infeksi ditularkan akan
memberikan informasi untuk merencanakan/melakukan tindakan protektif.
c. Berikan informasi mengenai terapi obat - obatan, efek samping dan pentingnya ketaatan pengobatan.
Rasional
: Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam
penyembuhan/profilaksis, dan untuk mengurangi resiko kambuhnya
komplikasi.
d. Diskusikan kebutuhan input yang tepat dan seimbang.
Rasional : Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.
e. Dorong periode istirahat adekuat dan aktivitas terjadwal.
Rasional : Mencegah kepenatan, penghematan energi, dan meningkatkan penyembuhan.
f. Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan.
Rasional : Membantu pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah bakteri patogen yang ada.
g. Diskusikan penggunaan yang tepat atau menghindari tampon sesuai indikasi.
Rasional : Tampon superabsorben/merupakan resiko potensial bagi infeksi stpahilococcus aureus (sindrom syok toksik).
h. Identifikasi tanda / gejala yang membutuhkan evaluasi medis.
Rasional
: Pengenalan dini dari perkembangan infeksi akan memungkinkan
intervensi dan mengurangi resiko kearah situasi yang membahayakan jiwa.
i. Tekankan pentingnya imunisasi profilaktik / terapi antibiotik sesuai kebutuhan.
Rasional : Penggunaan pencegahan terhadap infeksi.
(Doenges, 2000 : 881)
7. Gangguan mobilitas berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh (gangguan neuromuskular).
a. Gangguan neuromuskuler, nyeri/tidak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
b. Terapi pembatasan, imobilisasi tungkai, kontraktur.
Ditandai:
a. Menolak bergerak/tidak mampu bergerak sesuai tujuan rentang gerak terbatas, penurunan kekuatan kontrol dan/atau masa otot.
Tujuan : Menyatakan dan menunjukan keinginan berpartisipasi dalam aktifitas.
Kriteria Hasil :
a. Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur.
b. Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi yang sakit dan atau kompensasi tubuh.
c. Menunjukan teknik/perilaku yang memampukan melakukan aktifitas.
Intervensi :
a. Bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu
Rasional : dengan membantu aktivitas yang di perlukan pasien akan membantu mengurangi resiko yang tidak di inginkan.
(Doenges,2000 : 737)
b. Tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat.
Rasional : aktivitas dapat meningkat jika memotivasi yang sesuai dengan kondisi pasien.
(Doenges,2000 : 737)
c. Berikan alternative dengan periode yang cukup.
Rasional : aktifitas dapat meningkatkan istirahat yang untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh.
(Doenges,2000 : 757)
d. Pantau rtespon terhadap aktifitas
Rasional : meningkatkan kontrol terhadap situasi
(Doenges,2000 : 738)
8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
a. Trauma : Kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam).
Ditandai : Tak ada jaringan hidup.
Tujuan : Menunjukan regenerasi jaringan.
Kriteria Hasil : Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.
Intervensi
a. Kaji/ ukuran, wama, kedalaman luka , perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
Rasional
: Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penambahan kulit
dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada area luka.
b. Berikan perawatan luka yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.
Rasional : Menurunkan resiko infeksi.
c. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi.
Rasional : Mencegah kontaminasi dengan agent dan mencegah infeksi.
d. Siapkan/bantu prosedur bedah.
Rasional : Mempercepat penyembuhan abses.
(Doenges, 2000: 653 )
9. Nyeri berhubungan dengan
a. Kerusakan kulit/jaringan, pembentukan edema.
b. Manipulasi jaringan cidera,debridement luka
Ditandai:
a. Keluhan nyeri.
b. Fokus menyempit, penampilan wajah nyeri.
c. Perubahan tonus otot; respon autonomik.
d. Perilaku distraksi, melindungi; ansietas / ketakutan.
Tujuan : Melaporkan nyeri berkurang / terkontrol.
Kriteria Hasil :
a. Menunjukan ekspresi wajah / postur tubuh rileks.
b. Berpartisipasi dalam aktivitas dan tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi :
a. Tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka bakar metode pemajanan pada udara terbuka.
Rasional : Suhu berubah dan gerakan udara dapat menyebabkan nyeri hebat pada pemajanan ujung saraf.
b. Tinggikan ekstremitas luka bakar secara periodik.
Rasional
: Peninggian mungkin diperlukan pada awal untuk mnenurunkan
pembentukan edema setelah perubahan posisi dan peninggian menurunkan
ketidaknyamanan serta resiko kontraktur sendi.
c. Berikan tempat tidur ayunan sesuai indikasi
Rasional : Peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri.
d. Tutup
jari / ekstremitas pada posisi berfungsi (menghindari posisi fleksi
sendi yang sakit) menggunakan bebat pada papan kaki sesuai keperluan.
Rasional
: Posisi fungsi menurunkan deformitas / kontraktur dan
meningkatkan kenyamanan. Meskipun posisi fleksi sendi cendera dapat
merasa lebih nyaman, ini dapat mengakibatkan kontraktur fleksi
e. Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi.
Rasional
: Gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan
otot tetapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas cendera.
(Doenges, 2000:654)
BAB III
RESUME KEPERAWATAN
Dalam
bab ini penulis akan membahs tentang tinjauan pustaka dari asuhan
keperawatan pada Tn.T dengan abses femur dextra di ruang Melati RSUD Dr R
Soetrasno Rembang mulai dari pengertian ,etiologi, pathofisiologi,
manifestasi klinis, pthway, penatalaksanaan, pemeriksaan penunjang
sampai dengan proses keperawatan yang meliputi fokus pengkajian,
diagnosa keperawatan yang di arahkan pad pathway serta fokus
intervensinya
A. Pengkajian
Asuhan
keperawatan di berikan pada klien dengan nama Tn.T umur 36 tahun,
berjenis kelamin laki-laki, beralamat, Sendang Agung 4 / 2 Kaliori,
Beragama islam, pekerjaan sebagai nelayan, Tanggal masuk rumah sakit
pada 26 Juni 2010 jam 13.40 dan tanggal pengkajian 28 Juni
Dengan diagnosa medis Abses Femur Dextra.
dengan keluhan utama Pasien mengatakan nyeri, nyeri semakin terasa saat
bergerak cekot-cekot, nyeri pada femur dextra, nyeri terasa hilang
timbul dengan skala nyeri 4
Kaki
pasien mengalami bengkak sudah satu minggu yang lalu sebelum dibawa ke
RS pada tangal 26 uni 2010. sebelumnya pasien jatuh dari sepedah montor.
tindakan yang dilakukan pasien adalah memijit kakinya ditukang pijit.
Karena tidak kunjung sembuh pada tanggal 26 Juni 2010 jam 13.40 pasien
dibawa ke RSU dr. R. Soetrasno Rembang. Pasien masuk lewat UGD di UGD
pasien mendapatkan terapi inf. RL 20 tetes per menit, injeksi Cefotaxime
2 x 1 gr Intra Vena, injeksi Torasic 2x1 gr Intra Vena, Setelah
mendapatkan terapi dari IGD pasien dipindah ke urang Bougenvil. Tetapi
pada 26 Juni 2010 jam 13.00 WIB pasien dipindah lagi ke ruang Melati
untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Pasien
mengatakan sebelumnya pasien tidak pernah dirawat di RS. Pasien tidak
mempunyai riwayat penyakit asma, jantung DM, hipertensi dan penyakit
menular lainnya dan keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit
keturunan.
Pada
Pengkajian pola fungsional di dapatkan data tentang Pola Perpesi dan
pemelihraan kesehatan Pasien mengatakan bahwa kesehatan begitu penting .
hal ini terlihat dari apabila ada salah satu keluarga yang sakit segera
dibawa kepelayanan kesehatan.
Pola
nutrisi / metabolik Sebelum sakit Sebelum sakit pasien makan 3x/hari
dengan menu nasi, sayur, lauk. minum 6-8 gelas/hari dan Selama sakit
Pasien makan 3x/hari sesuai menu RS. Makan habis ½ porsi.
Pola
eliminasi Sebelum sakit pasien buang air besar 1x/hari dengan
konsutensi lembek, dan tidak ada keluhan dan selama sakit pasien belum
pernah buang air besar.
Pola aktifitas dan latihan selama sakit segala aktifitas di bantu oleh orang lain / keluarga.
Pola
tidur dan istirahat: pasien susah untuk istirahat Pada Pemeriksaan
fisik Keadaan umum Lemah, Kesadaran compasmentis denganTanda-tanda vital
tekanan darah 90/60 mmHg, suhu 360C, nadi 88 x/mnt, RR20
x/mnt, Ekstremitas atas Tangan kiri terpasang infus RL 20 tetes / menit
dan pada bagian bawah Terdapat benjolan pada paha kanan bagian bawah
samping
B. Program terapi :
Senin,tanggal 28 Juni 2010
Ketopain 2x1 gr jam 10.00, 22.00 WIB
Zefazolin 2x1 gr jam 10.00, 22.00 WIB
C. Analisa Data
Analisa
yang di dapat dari pengkajian pada tanggal 28 Juni 2009 pukul 07.00 WIB
adalah data subyektif Pasien mengatakan paha kanannya cekot-cekot dan
data obyektifnya nyeri muncul saat bergerak terasa cekot-cekot pada
Femur dextra, skala nyeri 4 nyeri hilang timbul dan pasien tampak
gelisah sehingga didapatkan masalah gangguan rasa nyaman yang di
sebabkan proses inflamasi.
Analisa
yang kedua di dapatkan data subyektif Pasien mengatakan kakinya sakit
bila digerakan nyeri data obyektifnya pasien tampak menahan sakit bila
kaki digerakan, Paha kaki kanan bagian bawah tampak bengkak dan
aktifitas pasien dibantu sehingga di dapatkan masalah Immobilisasi
berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan.
Analisa
yang ketiga didapatkan data obyektif Pasien makan habis ½ porsi.
Pasien tidak mau makan makanan tambahan yang dibelikan oleh isrinya,
Pasien tampak lelah dan pasien mual tiap habis makan sehingga didapatkan
masalah Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
anoreksia
D. Diagnosa keperawatan
Diagnosa
keperawatan yang muncul dari analisa data yang telah di lakukan
pengkajian TnT. Adalah gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
proses inflamasi yang ditandai dengan pasien mengatakan paha kanannya
terasa nyeri, nyeri muncul saat bergerak terasa cekot-cekot pada Femur
dextra, skala nyeri 4, nyeri Hilang timbul dan pasien tampak gelisah.
Immobilisasi
berhubungan dengan kerusakan intergritas jaringan yang di tandai dengan
Pasien mengatakan kakinya sakit bila digrakan terasa nyeri Pasien
tampak menahan sakit bila kaki digerakan, Paha kaki kanan bagian bawah
tampak bengkak dan aktifitas pasien dibantu.
Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh berhubungan dengan anoreksia yang di
tandai dengan pasien makan habis ½ porsi, pasien tidak mau makan
makanan tambahan yang dibelikan oleh isrinya, Pasien tampak lelah dan
Pasien mual tiap habis makan.
E. INTERVENSI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Rencana
tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada Tn.T pada
hari/tanggal Senin 28 Juni 2009 pukul 07.00 WIB di tetapkan tiap
diagnosa.
Diagnosa
pertama gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
tujuan yang direncanakan adalah setelah dilakukan tindakan selama 1x30
menit diharapkan nyeri berhubungan proses inflamasi teratasi
dengan,kriteria hasil skala nyeri 3, pasien tampak rilek.
Intervensi yang dibuat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah :
Mengobservasi
tanda-tanda vital, observasi adanya tanda – tanda nyeri non verbal
misal : ekspresi wajah, posisi tubuh gelisah, lakukan kompres dingin
Ajarkan
teknik distraksi dan relaksasi, kolaborasi dalam pemberian analgetik
dan antibiotik, kelopain 1 gr intra vena, Zefazolin 1 gr intra vena.
Tindakan
yang di lakukan : Mengobservasi tanda-tanda vital, data subyektif
pasien kooperatif, data obyektifnya tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 88 x /
mnt, suhu 366oC, respiratore 20 x / mnt, memberikan injeksi lewat intra vena
Ketopain
1 gr, Cefazolin 1 gr data subyektif pasien kooperatif, data obyektif
obat masuk intra vena, tidak ada alergi. Memberikan pendidikan kesehatan
cara mengurangi nyeri dengan teknik distraksi dan relaksasi data
subyektif pasien mengatakan mengerti, data obyektif pasien tampak
mempraktekan cara distraksi dan relaksasi. Mengobservasi tanda- tanda
vital data subyektif pasien kooperatif, data obyektif tekanan darah
100/70 mmHg, nadi 86 x /mnt, suhu360 C, respiratore 20 x /
mnt. Evaluasi : subyektif pasien mengatakan nyeri cekot-cekot
berkurang dengan skala nyeri 3, obyektif pasien tampak lebih rilek ,
analisa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
teratasi, planing pertahankan intervensi, observasi tanda-tanda vital
Kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik
Diagnosa
kedua Imobilisasi berhubungan dengan kerusakan intergritas jaringan
tujuan yang di rencanakan adalah setelah dilakukan tindakan selama 1 x 6
jam diharapkan gangguan mobilisasi berhubungan dengan kerusakan
integritas jaringan dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien dapat
melakukan aktifitas sesuai kemampuannya seperti, makan, ambulasi
ditempat tidur, berpakaian secara mandiri
Intervensi yang di buat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah :
Bantu
klien dalam beraktifitas bila tidak mampu, tingkatkan aktifitas
perawatan diri pasien setiap saat, berikan alternative dengan
periode yang cukup, pantau respon terhadap aktifitas, mengobservasi
skala aktifitas
Tindakan
yang di lakukan : mengobservasi skala aktifitas data subyektif pasien
mengatakan makan, mandi, toileting dibantu oleh keluarga data obyektif
aktifitas pasien tampak dibantu. Evaluasi : subyektif Pasien mengatakan
kakinya sakit bila digerakkan, obyektif tampak menahan sakit ketika kaki
digerakkan, skala pola aktivitas 17, analisa gangguan mobilisasi
berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan belum teratasi planing
lanjutkan intervensi, bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu,
tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat, berikan
alternative dengan periode yang cukup, pantau rtespon terhadap
aktifitas
Diagnosa
ketiga resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia tujuan yang direncanakan adalah setelah dilakukan tindakan
selama 1 x 24 jam diharapkan resiko pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria hasil pasien makan habis 1
porsi, mual (-), pasien tampak lebih segar.
Intervensi
yang dibuat untuk mengatasi permasalahn Tn.T adalah : Pantau intake
dan output makanan, timbang berat badan pasien dan ukur lingkar lengan
pasien setiap hari, berikan makanan dalam keadaan hangat, berikan makan
sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan yang tepat, mengobservasi
pola makan pasien, tentukan program diit dan pola makan pasien,
kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit pasien dan pemeberian
bubur.
Tindakan
yang di lakukan : Mengobservasi pola makan pasien data subyektif pasien
mengatakan setiap makan merasa mual data obyektifnya pasien makan habis
½ porsi. Evaluasi :
Subyektif
pasien mengatakan mual, tetapi memaksa untuk makan, obyektif pasien
makanhabis 1 porsi, pasien tampak lelah, analisa resiko pemenuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tidak terjadi, planing pertahankan
intervensi,
observasi pola makan pasien, anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
BAB III
PEMBAHASAN
Pada
bagian ini penulis akan membahas tentang kesesuaian dan kesenjangan
yang ada antara teori dengan tinjauan kasus dengan judul asuhan
keperawatan pada Tn.T dengan abses femur dextra di ruang melati RSUD
Dr.R. Soetrasno Rembang. Dengan mengunakan metode pemecahan masalah
melaluai pendekatan proses keperawatan serta memuat pula pembahasan
pembenaran data yang kurang sempurna atau kurang tepat karena
keterbatasan waktu.
Pada
prinsipnya pembahasan menjawab pertanyaan 5W+H dengan memperhatikan
aspek tahapan proses keperawatan yang terdiri dari tahap pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, dan evaluasi keperawatan.
Dalam
pengkajian penulis akan membenarkan data-data pendokumentasian yang
belum sempurna karena kurang ketelitian dan keterbatasan waktu dan
kurangnya penulis mencantumkan data dan suasana ujian yang mempengaruhi
psikis penulis.
Adapun data-data itu anatara lain :
- Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit keturunanayat kesehatan keluarga

: perempuan
: pasien
Pembenaran :
Di
sini penulis mencantumkan genogram keluarga, yang seharusnya penulis
tidak perlu mencantumkannya karena abses bukan merupakan penyakit
menurun
- Pengkajian pola fungsional
a. Pola nutrisi / metabolik
Sebelum sakit :Sebelum sakit pasien makan 3x/hari dengan menu nasi, sayur, lauk. Minum 6-8 gelas/hari.
Selama sakit :Pasien makan 3x/hari sesuai menu RS. Makan habis ½ porsi.
Pembenaran :
Di
sini penulis lupa mencantumkan konsumsi minum pada saat sakit: pasien
hanya minum ½ liter air aqua, hal ini penting karena dengan mengetahui
asupan air kita bisa mengukur balance cairan agar turgor kulit normal.
b. Pola eliminasi
Sebelum sakit : BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek, dan tidak ada keluhan.
Selama sakit : -
Pembenaran :
Di
sini penulis lupa mencantumkan pola eliminasi BAB pada saat sakit pada
hal ini sangat penting untuk mengetahui tentang asupan nutrisi pasien,
jika asupan nurtrisi terpenuhi dapat membantu proses penyembuhan
c. Pola prsepsi diri
Di sini penulis lupa untuk mencantumkanya/tidak terkaji
Penambahan :
Pasien
mengatakan kesehatan adalah suatu hal yang penting.Dan bila ada anggota
keluarga yang sakit langsung dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan
perawatan
- Pemeriksaan fisik
a. Ekstremitas
Atas : Tangan kiri terpasang infus RL 20tpm
Bawah : Terdapat benjolan pada paha kanan bagian bawah
samping
Pembenaran :
Seharusnya penulis mencantumkan kekutan otot pada ekstremitas bawah kanan , untuk memperkuat suatu tegaknya diagnosa
- Diagnosa Keperawatan Intervensi, Implementasi dan Evaluasi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
yang ditandai dengan : Pasien mengatakan paha kanannya cekot-cekot, nyeri muncul saat bergerak, cekot-cekot pada Femur dextra dengan skala nyeri 4, nyeri hilang timbul dan pasien tampak gelisah
Pada data ini kurang mendukung untuk tegaknya diagnosa sehingga penulis menambahkan adanya tanda-tanda inflamasi. Tanda- tanda utama inflamasi adalah: rubor (kemerahan jaringan), kalor (kehangatan jaringan), tumor (pembengkakan jaringan), dolor (nyeri).
Pada diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi kurang sesuai maka penulis melakukan pembenaran dan seharusnya nyeri berhubungan dengan regangan dan distorsi abses (kerusakanjaringan).
( Doenges,2000:241 )
Nyeri akut yang tidak reda akan mempengaruhi sistem pulmonari, koordiavaskuler, gastrointestinal, endokorin dan imonologik
(Smeltzer, 2002:212)
Nyeri
merupakan keadaan di mana individu menglami dan melaporkan adanya
ketidaknyamanan yang hebat atau sensasi yang tidak menyenangkan selama
enam bulan atau kurang
(Carpenito 2000:45)
Alasan
penulis mengangkat diagnosa ini sebagai diagnosa yang pertama karena
keluahan utama pasien adalah nyeri pada kaki kiri dengan skala lima dan
nyeri harus segera diatasi karena bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan
menggangu.
Nyeri akut dan berat dapat menyebkan kolaps kardiovaskuler dan syok
(Corwin 2002:227)
Nyeri
yang tidak diatasi secara adekuat mempunyai efek yang membahayakan di
luar kenyamanan selain merasakan ketidak nyamanan juga mengganggu
(Smeltzer 2001:214)
Nyeri yang dialami oleh pasien dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk pengalaman masa lalu dengan nyeri : ansietas,
usia, faktor-faktor ini dapat meningkat atau menurun perspsi nyeri
pasien, meningkatnya dan menurunya toleran terhadap nyeri dan pengaruh
sikap respon terhadap nyeri
(Smeltzer 2001:220).
Penulis
menentukan kriteria waktu satu kali 30 menit diharapkan nyeri
berhubungan proses inflamasi teratasi dengan, kriteria hasil skala nyeri
3 Pasien tampak rilek.
Intervensi :
a) Mengobservasi TTV
Rasional : perubahan tanda-tanda vital pasien yang mengalami nyeri
(Doenges, 2000 813-814)
b) Observasi adanya tanda-tanda nyeri
Rasional : mengetahui keadaan umum yang menunjukan pasien mengalami nyeri dan untuk mengetahui skala nyeri sebelumnya
(Doenges, 1999 : 458)
c) Lakukan kompres dingin
Rasional : dengan kompres dingin pembuluh darah akan mengalami vaso konstriksi
(Bruner & Suddart 2001 : 1138)
d) Ajarkan tekni distraksi dan relaksasi
Rasional : teknik distraksi atau pengalihan perhatian bisa mengurangi atau menekan nyeri
(carpenito, 2000 : 47)
Rasional : teknik relaksasi diharapkan menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri
(carpenito, 2000 : 47)
e) Kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotik, ketopain 1 gr IV, Zefazolin 1 gr IV
Rasional : analgetik sama dengan pusat otak (hipotalamus ) untuk
menurunkan persepsi nyeri (Doengoes, 1999 : 675)
Implementasi
yang berhasil di laksanakan untuk mengatasi masalah di atas adalah
mengobservasi tanda-tanda vital,mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi, kolaborasi dalam pemberian analgetik dan antibiotic ketopain 1 gr intra vena, Zefazolin 1 gr intra vena.
Evaluasi pada tanggal 28 Juni 2010 pukul 12.30 WIB di dapatkan data
pasien
mengatakan nyeri cekot-cekot berkurang dengan skala nyeri 3, pasien
tampak lebih rileks, analisa gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan proses inflamasi belum teratasi, masalah yang belum teratasi
didelegasikan pada perawat yang jaga berikutnya utuk di lanjutkan
rencana tindakan karena keterbatasan waktu penulis dalam melakukan
asuhan keperawartan.
2. Immobilisasi
berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan yang ditandai dengan
pasien mengatakan makan, mandi, toileting dibantu oleh keluarga,
aktifitas pasien tampak dibantu, pasien tampak menahan sakit bila kaki
digerakan, paha kaki kanan bagian bawah tampak bengkak, aktifitas pasien
dibantu dengan etiologi Kerusakan integritas jaringan dan problem
Immobilisasi. pada data obyektif kurang lengkap untuk menunjukan masalah
imobilisasi Seharusnya penulis mencantumkan kekeutan otot pada
ekstremitas bawah kanan , untuk memperkuat suatu tegaknya diagnosa.
Pada diagnosa 2. Immobilisasi
berhubungan dengan kerusakan intergritas jaringan kurang sesuai maka
penulis akan melakukan pembenaran, Gangguan mobilitas berhubungan dengan
penurunan fungsi tubuh (gangguan neuromuskular)
( Doenges,2000:241 )
Mobilisasi
tergantung pada interaksi yang terkoordinasi antara fungsi sensorik
persepsi,keterampilan motorik, kondisi fisik, tingkat kognitif, dan
kesehatan premorbid, serta variableeksternal seperti keberadaan
sumber-sumber komunitas, dukungankeluarga, adanya halangan arsitektural (
kondisi lingkungan), dan kebijaksanaan institusional.
Pengelolaan
imobilisasi menjadi sangat penting karena bertujuan untuk dapat
mempertahankan atau bahkan meningkatkan taraf hidup fungsional, dengan
parameter kemampuan untuk melakukan ADL (Activities of Daily Life).
Rehabilitasi medik, dukungan keluarga dan lingkungan merupakan faktor
utama. dalam pengelolaan imobilisasi. Upaya pencegahan dapat dilakukan
dengan melakukan latihan-latihan yang terprogram.
(carpenito, 2000 : 2)
Intervensinya :
a) Bantu klien dalam beraktifitas bila tidak mampu.
Rasional : dengan membantu aktivitas yang di perlukan pasien akan membantu mengurangi resiko yang tidak di inginkan.
(Doenges,2000 : 737)
b) Tingkatkan aktifitas perawatan diri pasien setiap saat.
Rasional : aktivitas dapat meningkat jika memotivasi yang sesuai dengan kondisi pasien.
(Doenges,2000 : 737)
c) Berikan alternative dengan periode yang cukup.
Rasional : aktifitas dapat meningkatkan istirahat yang untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh.
(Doenges,2000 : 757)
d) Pantau respon terhadap aktifitas
Rasional : meningkatkan kontrol terhadap situasi
(Doenges,2000 : 738)
e) Mengobservasi skala aktifitas
Rasional:
pasien mampu mandiri (nilai 0) atau memerlukan bantuan/peralatan yang
minimal (nilai 1); memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan
(nilai 2); memerlukan bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat
khusus (nilai 3); atau tergantung secara total pada pemberi asuhan
(nilai 4). Seseorang dalam semua kategori sama-sama mempunyai resiko
kecelakaan namun kategori dengan nilai 2-4 mempunyai resiko yang
terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan dengan imobilisasi.
(Doenges,2000 : 283)
Implementasi : implementasi yang berhasil dilaksanakan untuk mengatasi masalah diatas adalah mengobservasi skala aktifitas
Evaluasi :
Evaluasi
pada tanggal 28 Juni 2010 pukul 12.30 WIB di dapatkan data Pasien
mengatakan kakinya sakit bila digerakkan, tampak menahan sakit ketika
kaki digerakkan, skala pola aktivitas 17, analisa gangguan mobilisasi
berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan belum teratasi planing
lanjutkan intervensi, obervasi skala aktifitas pasien, bantu pasien
dalam pemenuhan aktifitas, berikan ROM aktif , masalah yang belum
treatasi didelegasikan pada perawat ruangan untuk di lanjutkan rencana
tindakan karena keterbatasan waktu penulis dalam melakukan asuhan
keperawartan.
3. Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh berhubungan dengan anoreksia yang
ditandai dengan pasien mengatakan lemas, nafsu makan berkurang dan
terasa mual.
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh: suatu keadaa dimana individu yang
tidak puasa mengalami atau beresiko mengalami penurunan berat badan yang
berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabilisme nutrient
yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik
(carpenito, 2000 : 259)
Penulis
menegakan diagnosa Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan anoreksia karena terdapat data yang
mendukung diagnosa ini, yaitu pasien pasien mengatakan lemas, nafsu
makan berkurang dan terasa mual. pada pengkajian pola metabolisme pasen
makan 2x sehari habis setengah porsi dan ibu pasien mengatakan nafsu
makannya turun.
Diagnosa
ini penulis diprioritaskan menjadi prioritas ketiga karena kebutuhan
berdasarkan kebutuhan dari Maslow kebutuhan nutrisi termasuk dalam
kebutuhan fisiologis. Dimana kebutuhan nutrisi ditegakan setelah
memprioritaskan masalah emergensi. Bahayanya apabila kebutuhan nutrisi
tidak adekuat maka akan dapat menurunkan daya tahan tubuh yang dapat
menimbulkan infeksi sekunder. Selain itu nutrisi yang tidak adekuat
tidak dapat mendukung proses penyembuhan
Intervensi :
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : Intake nutrisi adekuat, nafsu makan baik, berat badan normal
Intervensi :
a. Pantau intake dan output makanan
Rasional : Mengetahui asupan yang adekuat dan pengeluaran makanan
b. Timbang berat badan pasien dan ukur lingkar lengan pasien setiap hari
Rasional : Mengetahui status nutrisi pasien
(Doenges, 2000 : 426)
c. Berikan makanan dalam keadaan hangat
Rasional : Meningkatkan nafsu makan
d. Berikan makan sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan yang tepat
Rasional : dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat
(Doenges, 2000 : 426)
e. Tentukan program diit dan pola makan pasien
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan
f. Kolaborasi :Dengan ahli gizi untuk menentukan diit pasien dan peberian bubur.
Rasional
: Mengetahui makanan yang disukai pasien yang dapat meningkatkan nafsu
makan dan dapat menyesuaikan diit makanan dalam memenuhi kebutuhan
nutrisi pasien.
g. Mengobservasi pola makan pasien
Rasional : Mengetahui asupan nutrisi pasien
Implementasi :
implementasi
yang berhasil di laksanakan untuk mengatasi masalah di atas adalah
Mengobservasi pola makan pasien data subyektif pasien mengatakan setiap
makan merasa mual data obyektifnya pasien makan habis ½ porsi.
Evaluasi :
pasien
mengatakan masih merasa mual, tetapi memaksa untuk makan, pasien
makanhabis 1 porsi, pasien tampak lelah, analisa resiko pemenuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan belum tratasi, planing pertahankan
intervensi, Pantau intake dan output makanan, timbang berat badan pasien
dan ukur lingkar lengan pasien setiap hari, berikan makanan dalam
keadaan hangat, berikan makan sdikit dan makanan kecil tambahan yang
tepat, tentukan program diit dan pola makan pasien, kolaborasi dengan
ahli gizi untuk menentukan diit pasien dan pemeberian bubur. masalah
yang belum treatasi di delegasikan pada perawat ruangan unruk di
lanjutkan rencana tindakan karena keterbatasan waktu penulis dalam
melakukan asuhan keperawartan.
- Diagnosa keperawatan yang teori muncul tetapi di tinjauan kasus tidak muncul.
Adapun diagnosa-diagnosanya adalah sebagai berikut :
1. Resiko tinggi infeksi terhadap berhubungan dengan prosedur invasif
Resiko
terhadap infeksi : keadaan dimana seorang individu beresiko terserang
oleh agens patogenik atau oportunistik (virus, jamur, bakteri,
protozoa,atau parasit lain) dari sumber-sumber eksternal,sumber-sumber
endogen atau eksogen
(Carpenito,2001 : 204)
2. Hipertermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan regulasi temperatur.
Hipertermia
: keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko untuk
mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,8 C
(100 F) per oral atau 38,8 C (100 F) per rectal karena factor eksternal
(Carpenito 2001 : 21)
3. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan reduksi aliran darah arteri dan vena.
Perubahan
perfusi jaringan : keadaan di mana individu mengalami atau beresiko
mengalami suatu penurunan dalam nutrisi dan pernapasan pada tingkat
seluler di sebabkan suatu penurunan dalam suplai darah kapiler.
Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan permiabilitas / kebocoran cairan kedalam lokasi interstisial (ruang ketiga).
Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia.
Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler,
lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.
Secara umum, defisit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan,
perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan
berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam
kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium,
atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti
terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat
obstruksi saluran pencernaan
Cairan
dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh
tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah
merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis.
Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan
berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air
( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia
yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion
jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh
melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke
seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya
distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam
seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling
bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan
berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok
besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal,cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu : 4
Fase I : Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.
Fase II : Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel
Fase III : Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel
mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh
ikut berpindah.Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh
dengan cara :
1) Diffusi
2) Filtrasi
3) Osmosis
4) Aktif Transport Diffusi
dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat
berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah
perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui
larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya
difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :
a) Permeabilitas membran kapiler dan sel
b) Konsenterasi
c) Potensial listrik
d) Perbedaan tekanan. Osmosis adalah proses difusi
dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi
pada daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah ke daerah
dengan konsentrasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat terlarut
melalui sebuah membran sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau
muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda
dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin
trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium
dan natrium. Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di
dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi
natrium hampir sama pada kedua 5
bagian
itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan
hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh
pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama
disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke
ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses
filterisasi adalah pada glomerolus ginjal. Meskipun keadaan di atas
merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun
komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut
keseimbangan dinamis atau homeostatis
(http://lensaaskep.blog.com/kebutuhan-cairan-dan-elektrolit.html)
4. Resiko tinggi terhadap pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah
Kerusakan
pertukaran gas : keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan
jalanya gas (O2 dan CO2) yang actual (atau dapat mengalami potensial)
antara alveoli paru-paru dan system vaskuler
(Carpenito , 2001 : 327)
5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi.
Kurang
pengetahuan suatu keadaan di mana sorang individu atau kelompok
mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan –ketrampilan
psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan.
(Carpenito, 2001 : 223)
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit.
Kerusakan
integritas jaringan : keadaan seorang individu mengalami atau beresiko
untuk mengalami kerusakan integumen, kornea, atau jaringan membran
mukosa
(Cartpenito, 2001 : 299)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan dari pembahasan maka dapat di simpulkan hal-hal sebagai berikut :
Masalah
keperawatan yang muncul pada kasus GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN ABSESS
FEMUR DEXTRA PADA TnT adalah Nyeri berhubungan dengan regangan dan distorsi abses (kerusakanjaringan), gangguan mobilitas
berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh (gangguan neuromuskular),
resiko nutrisi kurang dari kebutuhan ubuh berhubungan dengan anoreksia.
1. Pada abses femur dextra tidak semua memperlihatkan gejala yang sesuai dengan teori
2. Prinsip pengelolaan pasien dengan abses femur dextra adalah perawatan umum yang berorentasikan pada kebutuhan pasien.
3. Di
dalam kesembuhan pasien ternyata keluarga mempunyai peran yang sangat
besar, bila keluarga di ikut sertakan maka klien akan terlindungi dengan
adanya orang terdekat klien kooperatif dan semangat dari pasien yang
ingin sembuh merupakan faktor pendukung sedangkan kurangnya pengetahuan
klien merupakan faktor penghambat dalam pengelolaan kasus
B. Saran
Berdasarkan hasil saran dapat di simpulkan sebagai berikut :
1. Tenaga
kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
permasalahan yang dikeluhkan oleh pasien dengan mengunakan sistem
pendokumentasian yang sistematis
2. Untuk
mempercepat kesembuhan klien, peran keluarga sangat penting maka
keluarga perlu di ikut sertakan dalam perawatan dan pengobatan klien.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L,J, 2001, Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Klinik (terjemahan), Edisi 3, EGC, Jakarta.
Doenges, M.E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (terjemahan), edisi 3, EGC, Jakarta
http://imadeharyoga.com (diakses 30 juni 2010)
http://www.surabayapost.co.id (diakses 30 juni 2010)
http://lensaaskep.blog.com/kebutuhan-cairan-dan-elektrolit.html(diakses 30 juni 2010)
http://ruangkesehatan.blog.com/20%abses (diakses 30 juni 2010)
Price, SA dan Wilson, LM, 1995, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (terjemahan), Eidisi 4, Volume 1, EGC, Jakarta
Smeltzer, S.C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (terjemahan), Edisi 8, Volume 2, EGC, Jakarta.
S. Sjamsuhidayat, Wim De Jong, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
Underwood, J.C.E, 1999, Buku Ajar Ilmu Bedah (terjemahan), Edisi 4, EGC, Jakarta.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PEMBERIAN OBAT INTRA VENA
Pengertian : Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukan langsung ke dalam pembuluh darah vena.
Tujuan : Pasien yang mendapatkan obat yang diberikan secara intra vena (IV)
Peralatan : 1. Sarung tangan 1 pasang
2. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
3. Jarum 1 (steril)
4. Bak spuit (1)
5. Kapas alkohol dalam kom (secukupnya)
6. Desinfektan (zalf atau cair)
7. Tourni auet / manset
8. Penlak dan pengalas
9. Obat sesuai program terapi
10. Bengkok 1
11. Bergaji ampul (kalau perlu)
12. Piester luka (hanssplast) kassa dan plester
13. Buku injeksi / daftar obat
Prosedur pelaksanaan
A. Tahap pra interaksi
1. Melakukan derifikasi data sebelumnya bisa ada
2. Mencuci tangan
3. Menempatakan alat didekat pasien dengan benar
B. Tahap orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga / klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
C. Tahap kerja
1. Mengatur posisi pasien dan pilih vena dari arah distal
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Membebaskan daerah yang akan diinjeksi
4. Meletakan tourniquel 5 cm proksimal yang akan ditusuk
5. Memakai hand schon
6. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol ( melingkar dari arah dalam ke arah luar ) biarkan kering
7. Mempertahankan vena pada posisi stabil
8. Memegang spuit dengan 300
9. Menusuk vena dengan kemiringan 300 dan lubang jarum menghadap ke atas
10. Melakukan aspirasi dan pastikan darah masuk spuit
11. Membuka tourniquet
12. Memasukan obat secara perlahan
13. Mencabut spuit sambil menekan daerah tusukan dengan kapas
14. Menutup daerah tusukan dengan plester luka
15. Membuang spuit ke dalam bengkok
D. Tahap terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
3. Berpamitan dengan klien
4. Membereskan alat - alat
5. Mencuci tangan
Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Teknik mengurangi rasa nyeri
Sub Pokok Bahasan : Teknik distraksi relaksasi
Sasaran : Tn. T
Tempat : Ruang Melati
Waktu : 15 menit
Hari / tanggal : Senin, 28 Juni 2010
A. Tujuan instruksional umum
Setelah dilakuka pendidikan kesehatan selama 1x15 menit diharapkan mampu mengurangi rasa nyeri.
B. Tujuan insruksional khusus
Setelah dilakukan tindakan keperawtan atau penyuluhan selama 1x15 menit diharapkan pasien :
1. Mengetahui pengertian distraksi relaksasi
2. Mengetahui dan bersedia melakan teknik distraksi elaksasi
3. Mampu mengatasi nyeri
4. Pasien merasa nyaman
C. Media
- Lembar balik
- Leaflet
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Evaluasi
1. Apakah pengetian teknik distraksi dan relasasi ?
2. Apakah manfaat teknik disraksi dan relaksasi ?
3. Bagaimana cara melakukan teknik distraksi dan relaksasi ?
F. Sumber
Asosiasi institusi pendidikan III keperawatan Jawa Tengah, 2006, Standart Operasional Prosdur.
G. KBM
No
|
Kegiatan
|
Waktu
|
Kegiatan Belajar Mengajar
| |
Mahasiswa
|
Tn. T dan Keluarga
| |||
1
|
Pembukaan
|
3menit
|
1. Mengucapkan salam
2. memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
4. Mengingatkan kontak
|
1. Menjawab salam
2. Memperhatikan
3. Mendengarkan dan meperhatikan
4. Menyetujui
|
2
|
Isi
|
10menit
|
1. Menjelaskan keadaan pasien tentang teknik distraksi relaksasi
2. Menjelaskan manfaat dilakukan teknik distraksi dan relaksasi
3. Memberikan kesempatan dan keluarga untuk bertanya
4. menjawab pertannyaan
5. menjelaskan prosedur distraski dan relaksasi
|
1. Mendengarkan dan memperhatikan
2. Mendengarkan dan memperhatikan
3. Bertanya
4. Mendengarkan
5. Mendengarkan dan memperhatikan
|
3
|
Penutup
|
2menit
|
1. Meminta pasien untuk melakukan teknik distraksi dan elaksasi
2. Memberi pertanyaan untuk evaluasi
3. Menyimpulkan hasil penyuluhan
4. Mengucapkan terima kasih
5. Menucapkan salam penutup
|
1. Melakuka teknik distraksi dan relaksasi
2. Pasien menjawab
3. Mendengarkan
4. Menjawab
5. Mejawab salam
|
MATERI
1. Pengertian Teknik Distraksi dan Relaksasi
Teknik
distraksi adalah proses teknik mengurangi rasa nyaman nyeri dengan
menarik nafas dalam dan menghembuskan secara peralahan jadi distraksi
dan relaksasi adalah teknik untuk memberikan rasa nyaman pada pasien
yang mengalami nyeri dengan membimbing pasien untuk melakukan teknik
distraksi dan relaksasi.
2. Tujuan Teknik Distraksi dan relaksasi
a. Mengurangi/menghilangi rasa nyeri
b. Menurunkan ketegangan otot
c. Menimbulkan perasaan nyaman
3. Prosedur (cara pelaksanaan teknik distraksi dan relaksasi)
a. Mengatur posisi yang nyaman dan tenang
b. Meminta
pasien memfokuskan pikiran pasien pada kedua kaknya untuk diluruskan,
kendorkan seluruh otot-otot kakinya, perintahkan pasien unuk merasakan
relaksasi kedua kakinya.
c. Meminta pasien unuk memejamkan mata
d. Meminta
pasien untuk memindahkan pikirannya pada keduanya tangan pasien,
kendorkan otot-otot kedua tangannya, meminta pasien untuk melakukan
relaksasi keduanya
e. Memindahkan
fokus pkiran pasien pada bagian tubuhnya meminta pasien ke otot bahu,
meminta pasien untuk melakukan relaksasi otot keduanya
f. Meminta pasien untuk senyum agar otot mulai rileks
g. Eminta pasien untuk memfokuskan pikiran pada masukannya udara lewat jalan nafas
h. Meminta pasien untuk berfikir ketempat yang menyenangkan
salam ya dari akper kesdam jambi . . :)
BalasHapussalam ya dari akper kesdam jambi . . :)
BalasHapus