KEPERAWATAN GAWAT
DARURAT
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN KETOASIDOSIS
DIABETIK
![]() |
DISUSUN OLEH :
1.
ANASTASIA
DEWI (11.004)
2.
DWI
ASRIFATUN F. (11.018)
3.
MOCH.
AFIF A. (11.055)
AKPER KESDAM IV DIPONEGORO
SEMARANG
TAHUN AJARAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Ketoasidosis diabetikum adalah salah satu komplikasi metabolik akut pada
diabetes mellitus dengan perjalanan klinis yang berat dalam angka kematian yang
masih cukup tinggi. Ketoasidosis diabetikum dapat
ditemukan baik pada mereka dengan diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2.
Angka kematian ketoasidosis
menjadi lebih tinggi pada beberapa keadaan yang menyertai, seperti : sepsis,
syok yang berat, infark miokard akut yang luas, pasen usia lanjut, kadar
glukosa darah yang tinggi, uremia, kadar keasaman darah yang rendah. Kematian
pada pasien ketoasidosis usia muda, umumnya dapat dihindari dengan diagnosis
cepat, pengobatan yang tepat dan rasional, serta memadai sesuai dengan dasar
patofisiologinya. Pada pasien kelompok usia lanjut, penyebab kematian lebih
sering dipicu oleh faktor penyakit dasarnya.
Gejala yang paling menonjol pada
ketoasidosis adalah hiperglikemia dan ketosis. Hiperglikemia dalam tubuh akan
menyebabkan poliuri dan polidipsi. Sedangkan ketosis menyebabkan benda-benda
keton bertumpuk dalam tubuh, pada sistem respirasi benda keton menjadi resiko
terjadinya gagal nafas. Oleh sebab itu penanganan ketoasidosis harus cepat,
tepat dan tanggap.
Peran perawat dalam menangani
pasien dengan KAD harus tepat waktu, tepat sasaran dan tepat tindakan
keperawatannya dimana pasien harus bisa mengontrol pola makan yang benar dan
sehat, berhati-hatilah dalam beraktivitas agar tidak menimbulkan komplikasi
lain dan perawat dapat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulian
setiap harinya.
B. TUJUAN
1.
Tujuan Umum
Setelah diadakan presentasi
diharapkan mahasiswa mampu mengerti dan memahami tentang ketoasidosis
diabetikum serta asuhan keperawatan yang harus diberikan dengan berbagai masalah
yang timbul.
2.
Tujuan Khusus
Setelah presentasi dan diskusi tentang konsep dasar
dan asuhan keperawatan pada klien dengan ketoasidosis diabetikum, mahasiswa
diharapkan akan dapat :
a)
Mengetahui pengertian KAD
b)
Mengetahui dan memahami etologi KAD
c)
Mengetahui dan memahami manifestasi kiniks KAD
d)
Mengetahui dan memahami patofisiologi dan patway dari
KAD
e)
Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnosis yang
dibutuhkan pada klien KAD
f)
Mengetahui dan memahami komplikasi KAD
g)
Mengetahui dan memahami penatalaksanaan KGD,
keperawatan dan medis dari KAD
h)
Mengetahui dan
memahami proses keperawatan pada KAD
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
DEFINISI
Ketoasidosis
Diabetik (KAD) merupakan salah satu komplikasi akut DM akibat defisiensi
(absolut ataupun relatif) hormon insulin yang tidak dikenal dan bila tidak
mendapat pengobatan segera akan menyebabkan kematian. (Arif Mansjoer, 2001)
Ketoasidosis
Diabetikum (KAD) adalah suatu keadaan dimana terdapat defisiensi insulin
absolute atau relative dan peningkatan hormone kontra legulator (glukagon,
katekolamin, kortisol dan hormon pertumbuhan), yang menyebabkan keadaan
hipergilkemi (Brunner and Suddart, 2002).
Ketoasidosis
Diabetik adalah suatu keadaan darurat akibat gangguan metabolic diabetes
mellitus berat yang disifati oleh adanya trias hiperglikemi, asidosis, dan
ketonemi (Adam, 2001).
B.
ETIOLOGI
Ketoasidosis
diabetikum di dasarkan oleh adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin
yang nyata, yang dapat disebabkan oleh :
1. Insulin
diberikan dengan dosis yang kurang.
2. Keadaan
sakit atau infeksi pada DM, contohnya : pneumonia, kolestisitis, iskemia usus
dan apendisitis.
Keadaan sakit dan
infeksi akan menyertai resistensi insulin. Sebagai respon terhadap stres fisik
(atau emosional), terjadi peningkatan hormon – hormon ”stres” yaitu glukagon,
epinefrin, norepinefrin, kotrisol dan hormon pertumbuhan. Hormon – hormon ini
akan menigkatakan produksi glukosa oleh hati dan mengganggu penggunaan glukosa
dalam jaringan otot serta lemak dengan cara melawan kerja insulin. Jika kadar
insulin tidak meningkatkan dalam keadaan sakit atau infeksi, maka hipergikemia
yang terjadi dapat berlanjut menjadi ketoasidosis diabetik.
3. Manifestasi
pertama pada penyakit diabetes yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati.
(Brunner
and Suddart, 2002)
C.
PATOFISIOLOGI
Diabetes
Ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah
insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinis yang penting pada
diabetes ketoasidosis yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis.
Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang memasuki sel akan
berkurang juga. Disamping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak
terkendali. Kedua faktor ini akan mengakibatkan hiperglikemia. Dalam upaya
untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan
mengekskresikan glukosa bersama air dan elektrolit (seperti natrium dan
kalium). Diurisis osmotik yang ditandai oleh urinasi berlebihan (poliuri) ini
akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Penderita ketoasidosi
yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga 500
mEg natrium, kalium serta klorida selama periode waktu 24 jam. Akibat
defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi asam-asam
lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas akan diubah menjadi benda keton oleh
hati. Pada ketoasidosis diabetik menjadi produksi benda keton yang berlebihan
sehingga akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah
timbulnya keadaan tersebut. Benda keton bersifat asam dan bila bertumpuk dala
sirkulasi darah, benda keton akan menimbulkan asidosis metabolik.
(Brunner and Suddarth,
2001)
D.
PATHWAY
Gang. Keb. Nutrisi Gang. Pola nafas tidak efektif Nyeri
E.
MANIFESTASI
KLINIK
Tujuh puluh sampai
sembilan puluh persen pasien KAD telah diketahui menderita DM sebelumnya.
Sesuai dengan patofisiologi KAD, akan dijumpai pasien dalam keadaan
ketoasidosis dengan tanda dan gejala :
1. Kadar
glukosa > 250 mg% dan pH < 7,35
2. HCO3 rendah (<15 meq/L)
3. Anion
gap yang tinggi dan keton serum positif
4. Pernafasan
cepat dan dalam (Kussmaul)
5. Dehidrasi
(turgor kulit berkurang, lidah dan bibir kering)
6. Hipovolemia
atau sampai syok
7. Poliuria
dan polidipsia
8. Adanya
riwayat berhenti menyuntik insulin, demam atau infeksi
9. Mual
dan muntah
10. Nyeri
perut yang menonjol
11. Derajat
kesadaran pasien bervariasi, mulai dari composmetis sampai koma
(Arif
Mansjoer, 2001)
F.
KOMPLIKASI
Ø Hipoksemia
Ø Sindrom
Gawat Nafas Dewasa (Adult Respiratory
Distress Syndrome, ARDS)
Ø Dehidrasi
yang berlebihan
Ø Gagal
jantung kiri
Ø Pankreatitis
akut
Ø Hipoglikemia
Ø Hipokalemia
Ø Hiperkloremia
Ø Edema
otak
Ø Infark
Miokard Akut
(Arif
Mansjoer, 2001)
G.
DATA
PENUNJANG
1. Analisa
Darah
a) Kadar
glukosa darah bervariasi tiap individu
b) pH
rendah (6,8-7,3)
c) PCO2 turun (10-30 mmHg)
d) HCO3 turun (<15 mEg/L)
e) Keton
serum positif, BUN naik
f) Kreatin
naik
g) Hb
dan Ht naik
h) Leukosit
i)
Osmolalitas serum meningkat tetapi
biasanya kurang dari 330 mOsm/1
2. Elektrolit
v Kalium
dan natrium dapat rendah atau tinggi sesuai jumlah cairan yang hilang
(dehidrasi)
v Fosfor
lebih sering menurun
3. Urinalisa
v Leukosit
dalam urin
v Glukosa
dalam urin
4. EKG
gelombang T naik
5. MRI
atau CT-Scan
6. Foto
Thoraks
H. PENATALAKSANAAN
1.
Penatalaksanaan
KGD
·
Pertahankan
jalan nafas
·
Pada syok berat
berikan oksigen 100% dengan masker
·
Jika syok
berikan larutan isotonik (normal saline 0,9%) 20cc/kgBB
·
Bila terdapat
penuruna kesadaran perlu pemasangan naso gastrik tube untuk menghindari
aspirasi lambung.
2.
Penatalaksanaan
Keperawatan
·
Penilaian
kliniks awal : pemeriksaan fisik (BB, TD, tanda sidosis, GCS, derajat
dehidrasi), dan konfirmasi biokimia (analisa darah dan urinalisa)
(Dunger DB,
2004)
·
Pemantauan
status volume cairan : pemeriksaan TTV (termasuk memantau perubahan ortostatik
pada tekanan darah dan frekuensi jantung), pengkajian paru, dan pemantauan
asupan serta haluan cairan.
·
Pemantauan
kalium
(Brunner and
Suddart, 2002)
3.
Penatalaksanaan
Medis
Elekrtolit :
v Kadar potasium mulai menurun saat diberikan insulin, oleh karena itu
pemberian potasium dimulai saat dimulainya pemberian insulin, terkecuali pada
penderita dengan kadar potasium > 6,0 mEg/L, mereka yang anuri dan penderita
gagal ginjal kronik yang biasanya sudah disertai poatsium serum yang tinggi.
Potasium diiberikan dengan dosis 10 – 30 mEg/jam, semakin rendah kadar potasium
serum semakin besar dosis yang diberikan sambil memantau kadar dalam serum.
Kadar potasium serum harus dipertahankan >3,5 mEg/L.
v Pemberian sodium bikarbonat diberikan saat pH <7,0, kadar bikarbonat
<5,0 mEg/L, hiperkalemia berat >6,5 mEg/L. Pemberian bikarbonat dosis 100
– 250 mEg dalam 100 – 250 ml 0,45%NaCl, diberikan antara 30 – 60 menit.
Pemberian bikarbonat harus disertai dengan pemantauan pH arteri, dan dihentikan
apabila pH >7,1.
(Adam JMF, 2002)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
1. Identitas
Klien dan Penanggung Jawab
2. Keluhan
Utama
Keluhan atau gejala
saat awal dilakukan pengkajian pertama kali yang utama.
3. Pengkajian
Primer
a) Airway
Kaji jalan nafas
terbuka, ada tidaknya sekret atau benda asing yang menghalangi jalan nafas dan
kaji timbulnya suara seperti gurgling, snoring maupun crowing.
b) Breathing
Inspeksi rate,
kesimetrisan peranjakan paru serta ada tidaknya dispnea, kaji adanya sesak
nafas, cuping hidung, nafas cepat, adanya sianosis atau tidak dan pemakaian
otot pernafasan tambahan.
Auskultasi suara nafas
dan perkusi area paru
c) Circulation
Kaji frekuensi denyut
nadi, tekanan darah, suhu, capilary refil, SPO2
dan
kaji adanya edema.
d) Disability
Kaji status neurologi :
GCS dan tanda lateralisasi
e) Eksposure
Kaji adanya jejas pada
seluruh tubuh, yang perlu diperhatikan adalah cegah hipotermi
4. Pengkajian
Sekunder
a) Riwayat
Keperawatan/Kesehatan
1) Riwayat
Kesehatan/Keperawatan Sekarang
2) Riwayat
Kesehatan/Keperawatan Dahulu
3) Riwayat
Kesehatan/Keperawatan Keluarga
b) Pemeriksaan
Fisik
1) Keadaan
Umum
Meliputi kesan
kesadaran sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi klien.
2) Pemeriksaan
Tanda Vital
Meliputi nadi
(frekuensi, irama, kualitas), tekanan darah, pernafasan (frekuensi, irama,
kedalaman, pola nafas) dan suhu tubuh.
3) Pemeriksaan
Head To Toe
Kepala : kaji bentuk, adanya luka
Rambut : warna, jenis, ketebalan dan kebersihan
rambut
Mata : kemampuan penglihatan, ukuran pupil, reaksi
terhadap cahay, konjungtiva, sklera, alat bantu, adanya sekret dan cekung
Hidung : bagaimana
kebersihannya, septum deviasi, sekret, epistaksis polip, pemakaian selang O2/selang NGT
Telinga : kemampuan pendengaran, adanya nyeri,
sekret telinga, pembengkakan, penggunaan alat bantu
Mulut : keadaan bibir (warna, kelembaban),
kebersihan gigi dan gusi, mulut, bau mulut, pemasangan ET/OPA
Leher : kesimetrisan trachea, terabanya
kelenjar thyroid, benjolan, tracheostomy, nyeri telan, pembesaran tonsil,
tekanan vena jugularis
c) Kebutuhan
Fisiologis
1) Pola
Nutrisi dan Metabolisme
·
Gejala : Hilang nafsu makan
·
Mual/muntah
·
Tidak mematuhi diet, peningkatan masukan
glukosa/karbohidrat
·
Penurunan berat badan lebih dari beberapa hari/minggu
·
Haus, penggunaan diuretik (Thiazid)
·
Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor
jelek
·
Kekakuan/distensi abdomen, muntah
·
Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik
dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)
2) Pola
Eliminasi
§ Gejala
: Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia
§ Rasa
nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISSK baru/berulang
§ Nyeri tekan
abdomen, Diare
§ Tanda :Urine
encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria, jika
terjadi hipovolemia berat)
§ Urin
berkabut, bau busuk (infeksi)
§ Abdomen
keras, adanya asites
§ Bising usus
lemah dan menurun, hiperaktif (diare)
3) Pola
Aktivitas
·
Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan
·
Kram otot, tonus otot menurun, gangguan istrahat/tidur
·
Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan
istrahat atau aktifitas
·
Letargi/disorientasi, koma
·
Penurunan kekuatan otot
4) Sirkulasi
§ Gejala :
Adanya riwayat hipertensi, IM akut
§ Klaudikasi,
kebas dan kesemutan pada ekstremitas
§ Ulkus pada
kaki, penyembuhan yang lama
§ Takikardia
§ Tanda
: Perubahan tekanan darah postural, hipertensi
§ Nadi yang
menurun/tidak ada
§ Disritmia
§ Krekels,
Distensi vena jugularis
§ Kulit panas,
kering, dan kemerahan, bola mata cekung
5) Integritas
Kulit
·
Gejala : Stress, tergantung pada orang lain
·
Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi
·
Tanda : Ansietas, peka rangsang
6) Neurosensori
§ Gejala
: Pusing/pening, sakit kepala
§ Kesemutan,
kebas, kelemahan pada otot, parestesia
§ Gangguan
penglihatan
§ Tanda
: Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap
lanjut). Gangguan
§ Memori
(baru, masa lalu), kacau mental
§ Refleks
tendon dalam menurun (koma)
§ Aktifitas
kejang (tahap lanjut dari DKA)
7) Nyeri/Kenyamanan
·
Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat)
·
Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat
berhati-hati
8) Keamanan
·
Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
·
Tanda : Demam, diaforesis
·
Kulit rusak, lesi/ulserasi
·
Menurunnya kekuatan umum/rentang erak
·
Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot
pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam)
9) Pernafasan
·
Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa
sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak)
·
Tanda : Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen
·
Frekuensi pernapasan meningkat
10) Seksualitas
§ Gejala :
Rabas vagina (cenderung infeksi)
§ Masalah
impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita
5. Pemeriksaan
Penunjang
v Glukosa
darah : meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih
v Aseton
plasma (keton) : positif secara mencolok
v Asam
lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkaat
v Osmolalitas
serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
v Elektrolit
: Natrium : mungkin normal , meningkat atau menurun
v Kalium
: normal atau peningkatan semu (perpindahan selular), selanjutnya akan menurun
v Fosfor
: lebih sering menurun
v Hemoglobin
glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan
kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir
v Gas
darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis
metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik
v Trombosit
darah : Ht mungkin meningkat atau normal (dehidrasi), leukositosis,
hemokonsentrasi sebagai rrespons terhadap stress atau infeksi
v Ureum/kreatinin:
Mungkn meningkaatt atau normal(dehidrasi/penurunan fungsi ginjal)
v Amilase
darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut sebagai
penyebab DKA
v Urin
: gula dan aseton positif , berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat
v Kultur
dan sensitifitas : kemungkinan adanya infeksi saluran kemih, pernafasan dan
pada luka
B.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
penurunan kemampuan bernafas
2.
Resti terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan peningkatan keasaman (pH menurun) akibat hiperglikemia, glukoneogenesis
dan lipolysis
3.
Nyeri akut berhubungan dengan dilatasi lambung
4.
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis
osmotik akibat hiperglikemia, pengeluaran cairan berlebihan : diare, muntah; pembatasan
intake akibat mual, kacau mental
5. Perubahan
nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin,
penurunan masukan oral, status hipermetabolisme
6. Resiko
tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan ketidakseimbangan
glukosa/insulin dan/atau elektrolit
C.
INTERVENSI
1.
Dx. I :
Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kemampuan
bernafas
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pola nafas efektif
KH : Pola nafas pasien kembali
teratur, respirasi rate pasien kembali normal (16-24x/menit), dan pasien mudah
untuk bernafas
Intervensi :
a) Kaji
pola nafas setiap hari
R : Pola dan pernafasan
dipengaruhi oleh status asam basa, status hidrasi, status cardiopulmonal dan
sistem persyarafan. Keseluruhan faktor harus dapat diidentifikasi untuk
menentukan faktor mana yang berpengaruh
b) Kaji
kemungkinan adanya sekret yang mungkin timbul
R : Penurunan kesadaran
mampu merangsang pengeluaran sputum berlebih akibat kerja reflek parasimpatik
atau menurunnya kemampuan menelan
c) Baringkan
klien pada posisi nyaman, semi fowler
R : Memudahkan klien
dalam bernafas
d) Berikan
oksigenasi sesuai dengan kebutuhan
R : Pernafasan kusmaul
sebagai kompensasi keasaman memberikan respon penurunan CO2 dan O2. Pemberian oksigen sungkup dalam
jumlah yang minimal diharapkan dapat mempertahankan level CO2.
e) Pastikan
jalan nafas tidak tersumbat
R : Pengaturan posisi
ekstensi kepala memfasilitasi terbukanya jalan nafas, menghindari jatuhnya
lidah dan meminimalkan penutupan jalan nafas oleh sekret yang mungkin terjadi
f) Kolaborasi
dengan tim medis
R : Membantu tindakan
medis selanjutnya sesuai dengan indikasi dokter
2.
Dx. II :
Resti terjadinya gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan
keasaman (pH menurun) akibat hiperglikemia, glukoneogenesis dan lipolysis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan pertukaran gas
KH : RR dalam batas normal
(16-24x/menit), AGD dalam batas normal, yaitu pH (7,35-7,45), PO2 (80-100 mmHg), PCO2 (30-40 mmHg), HCO3 (22-26), BE (-2 sampai +2)
Intervensi :
a) Observasi
irama, frekuensi serta kedaleman pernafasan
R : Memantau adanya perubahan irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan
b) Monitor
hasil pemeriksaan AGD
R : Untuk memantau AGD pasien apabila ada perubahan dalam pH, PO2,
PCO2, HCO3 dan BE
c) Auskultasi
bunyi paru
R : Mengidentifikasi bunyi paru apabila ada bunyi tambahan dalam paru
d) Berikan
posisi fowler / semifowler (sesuai dengan keadaan klien)
R : Memberikan rasa nyaman dan melancarkan jalan nafa
e) Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat
R : Agar memperlancar pertukaran gas dan mengurangi sesak nafas pada
pasien
3.
Dx. III :
Nyeri akut berhubungan dengan dilatasi lambung
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri berkurang atau hilang
KH : Nyeri berkurang atau terkontrol, pasien tampak tenang
tidak meringis kesakitan
Intervensi :
a) Kaji keluhan nyeri, catat intensitasnya,
karakteristiknya, lokasi dan lamanya nyeri.
R : Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus
dijelaskan oleh pasien dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang
diberikan
b) Gunakan teknik sentuhan yang terapeutik visualisasi
(teknik relaksasi dan distraksi)
R : Memberikan pasien sejumlah pengendali nyeri atau
dapat mengubah mekanisme sensasi nyeri dan mengubah persepsi nyeri
c) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
R : Analgetik merupakan obat yang dapat mengurangi
atau menghilangkan rasa nyeri
d)
Pertahankan istirahat dengan posisi semi
fowler
R :Posisi semi fowler dapat menurunkan rasa
nyeri dan membuat nyaman
e) Hindari
tekanan area popliteal
R :Mencegah
terjadinya nyeri yang lebih parah
4.
Dx. IV :
Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik akibat hiperglikemia,
pengeluaran cairan berlebihan : diare, muntah; pembatasan intake akibat mual,
kacau mental
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan volume cairan seimbang
KH : TTV dalam batas normal,
pulse perifer dapat teraba, turgor kulit dan capillary refill baik (kembali
< 3 detik), keseimbangan urin output dan kadar elektrolit normal
Intervensi :
a) Kaji
riwayat pengeluaran berlebih : poliuri, muntah maupun muntah
R : Membantu
memperkirakan pengurangan volume total. Proses infeksi yang menyebabkan demam
dan status hipermetabolik meningkat pengeluaran insensibel
b) Monitor
tanda-tanda vital dan perubahan tekanan darah orthostatik
R : Hipovolemik dapat
dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardi. Hipovolemia yang berlebihan
dapat ditunjukkan dengan peenurunan TD lebih dari 10 mmHg dari posisi berbaring
ke duduk atau berdiri
c) Kaji
nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
R : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau
volume sirkulasi yang adekuat
d) Pantau
masukan cairan dan pengeluaran urin
R : Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti,
fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan
e) Berikan
cairan paling sedikit 2500 cc/hari
R : Mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi
f) Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian NaCl, ½ NaCl dengan atau tanpa dekstrose
R : Meningkatkan dan menyeimbangkan volume cairan dalam tubuh
5.
Dx. V :
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan
insulin, penurunan masukan oral, status hipermetabolisme
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi
KH : Klien mencerna jumlah kalori
/ nutrisi yang tepat, menunjukkan energi yang biasa, BB dapat stabil
Intervensi :
a)
Pantau BB setiap hari atau sesuai
indikasi
R : mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk
absorbsi dan utilisasinya)
b)
Tentukan program diet dan pola makan
pasien dan bandingkan dengan makanan yang dihabiskan
R : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari
kebutuhan terapeutik
c)
Auskultasi bising usus, catat adanya
nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum dicerna dan
pertahankan puasa sesuai indikasi
R : Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit dapat menurunkan motilitas / fungsi lambung (distensi / ileus
paralitik) yang akan mempengaruhi pilihan intervensi
d)
Berikan makanan yang mengandung nutrisi
kemudian upayakan pemberian yang lebih padat yang dapat ditoleransi
R : Pemberian makanan melalui oral lebih baik jika
pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik
e)
Libatkan keluarga pasien pada
perencanaan sesuai indikasi
R : Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan
informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien
f)
Observasi tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembeb /
dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsangan, cemas, sakit kepala, pusing
dan sempoyongan
R
: Karena metabolisme karbohidrat sulit terjadi (gula darah akan berkurang, dan
sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi jika pasien
dalam keadaan koma, hipoglikemia mungkin terjadi tanpa memperlihatkan perubahan
tingkat kesadaran
g)
Lakukan
konsultasi dengan ahli diet
R : Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan
penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
h)
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
insulin secara teratur sesuai indikasi
R : Meningkatkan kadar insulin dalam tubuh
6.
Dx. VI :
Resiko tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan
ketidakseimbangan glukosa/insulin dan/atau elektrolit
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak
terjadi perubahan sensori-perseptual
KH :
Mempertahankan tingkat mental biasanya, mengenali dan mengkompensasi adanya
kerusakan sensori
Intervensi :
a)
Pantau
tanda-tanda vital dan status mental
R : Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal,
seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental
b)
Panggil
pasien dengan nama, orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhannya. Berikan
penjelasan yang singkat dengan bicara perlahan dan jelas
R : Menurunkan kebingungan dan membantu untuk
mempertahankan kontak dengan realitas
c)
Jadwalkan
intervensi keperawatan agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien
R : Meningkatkan tidur, menurunkan rasa letih dan
dapat memperbaiki daya pikir
d)
Pelihara
aktivitas rutin pasien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan
sehari-hari sesuai kemampuannya
R : Membantu memelihara pasien tetap berhubungan
dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungannya
e)
Lindungi
pasien dari cidera (gunakan pengikat) ketika tingkat kesadaran pasien
terganggu. Berikan bantalan lunak pada pagar tempat tidur dan berikan jalan
nafas buatan yang lunak jika pasien kemungkinan mengalami kejang
R : Pasien mengalami disorientasi merupakan awal
kemungkinan timbulnya cidera terutama malam hari dan perlu pencegahan sesuai
indikasi. Munculnya kejang perlu diantisipasi untuk mencegah trauma fisik,
aspirasi dan sebagainya.
D.
IMPLEMENTASI
Implementasi adalah
tahap pelaksanaan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan
untuk perawat bersama klien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi
yang telah direncanakan.
E.
EVALUASI
Evaluasi merupakan
tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini merupakan
kegiatan dalam menilai tindakan keperawatan yang telah ditentukan untuk
mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari
proses keperawatan.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keto
Asidosis Diabetikum (KAD) merupakan salah satu kompliasi akut DM akibat
defisiensi hormone insulin yang tidak dikenal dan bila tidak mendapat
pengobatan segera akan menyebabakan kematian. Etiologi dari KAD adalah Insulin
tidak diberikan dengan dosis yang kurang, keadaan sakit atau infeksi pada DM,
manifestasi pertama pada penyakit diabetes yang tidak terdiagnosis dan tidak
diobati.
Ada
tiga gambaran kliniks yang penting pada diabetes ketoasidosis yaitu dehidrasi,
kehilangan elektrolit dan asidosis. Dehidrasi disebabkan mekanisme ginjal
dimana tubuh terjadi hiperglikemia, sehingga ginjal mensekresikan dengan
natrium dan air yang disebut poliuri. Kehilangan elektrolit merupakan
kompensasi dari defisiensi insulin. Sedangkan asidosis adalah peningkatan pH
dan diiringi oleh penumpukan benda keton dalan tubuh. Keadaan ketoasidosis
merupakan keadan yang memerlukan banyak pengontrolan dan pemantauan insulin dan
cairan elektrolit, karena bila kekurangan atau malah terjadi kelebihan akan
mengakibatkan komplikasi yang sulit untuk ditanggulangi.
B.
SARAN
Bila
menemukan klien yang DM tetapi belum terjadi KAD berikan informasi tentang KAD
dan pencegahan terhadap KAD. Bila menemukan klien dengan KAD, sebaiknya selalu
kontrol pemberian insulin dan cairan elektrolit sehingga meminimalkan
terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
and Suddart.2001.Buku Ajar Medikal Keperawatan Vol.3.Jakarta : EGC.
Doengoes,
Marilyn E..2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta : EGC.
Mansjoer,
Arif.2001.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.Jakarta : Media Aesculpius.
Novianto, Dewi. 2011.Askep Ketoasidosis Diabetikum.http//askep-ketoasidosis-diabetikum.html. Diposkan pada 8 Desember 2011.
Wilkinson,
Judith M. 2007.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar